3 Tips Menulis Tulisan Yang Baik & Menarik

Sebagai penulis pemula yang sudah mulai terbiasa menulis baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, izinkan saya untuk memberikan beberapa tips kepenulisan yang mungkin bermanfaat ya!

Perlu diketahui sebelumnya, menulis adalah serangkaian proses kreatif yang menggunakan kolaborasi dua bagian otak kita, otak kanan yang menjunjung tinggi imajinasi, dan otak kiri yang membuat kita berpikir kritis menggunakan logika. Bagi saya pribadi, sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang memberikan sebuah pengetahuan dan pengalaman baru dengan cara yang menyenangkan.

Artinya, pembaca tidak akan bosan, tetap fokus, dan ingin terus membaca tulisan yang kita buat dengan mudah dan terus melekat di otak. Sebuah keseimbangan sempurna yang sampai saat ini masih terus saya latih dan pelajari dengan melakukan 3 hal berikut:

1. Riset

Apapun topik yang akan kita tulis, siapapun target tulisannya, riset harus selalu menjadi pondasi utama dalam sebuah proses kepenulisan. Riset adalah kerangka dari sebuah badan, pondasi dari sebuah tulisan yang sangat penting, dan esensi yang harus selalu diperhatikan ketika kita menulis sebuah tulisan.

Tanpa melakukan riset, menurut saya mustahil seseorang bisa menghasilkan sebuah tulisan yang baik.

Salah satu faktor utama kenapa seseorang membaca sebuah tulisan adalah untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan, demi menjawab pertanyaan yang mereka punya. Riset membantu kita dalam menulis jawaban yang mungkin mereka butuhkan, tergantung dari perspektif mana yang akan kita tulis.

Logikanya seperti ini:

Semakin baik riset yang kita lakukan, semakin lengkap informasi yang ada pada tulisan kita, dan semakin berguna pula tulisan yang kita buat bagi pembacanya.

Bisa dibilang, riset adalah perwakilan dari otak kiri kita. Esensi dari sebuah tulisan adalah informasi didalamnya, dan sudah tugas kita sebagai seorang penulis untuk mengumpulkan semua informasi dari berbagai macam sumber, dan membuatnya menjadi sebuah tulisan untuk dibaca.

Riset disini bukan sebuah proses yang rumit sebenarnya, hanya membaca, melihat, dan mendengar secara lebih luas dan lebih dalam tentang apa yang akan kita tulis. Begini cara saya melakukan riset untuk setiap tulisan yang saya buat:

  • Riset menulis adalah proses pengumpulan informasi berupa data faktual yang biasanya didapatkan dari hasil penelitian, pengalaman, dan kutipan dari orang lain yang mempunyai kredibilitas dan kapabilitas pada topik tulisan yang kita buat.
  • Sumber data tersebut biasanya berupa tulisan, audio, video, gambar, atau media-media informasi lainnya.

Anggaplah kamu mendapatkan pertanyaan seperti Selain J.A.R.V.I.S dan F.R.I.D.A.Y, apa nama lain dari A.I. milik Tony Stark? yang kamu sendiri tidak tahu jawabannya, tapi kamu merasa penasaran dan ingin menjawabnya. Lantas apa saja riset yang harus dilakukan untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut?

Pertama, coba untuk mencari jawaban langsung dari pakar dan sumbernya, yang dalam kasus ini adalah pembuat komiknya langsung, para pakar dan penggemar berat komik Marvel, serta database atau wiki dari komik-komik Marvel.

Kedua, ketika kita sudah mendapatkan sumber data yang valid, segera gali dan cari informasi yang bisa kamu gunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan di atas saya melakukan pencarian di database dunia Marvel, dengan melihat dan mencari referensi komiknya secara langsung serta membaca semua fakta-fakta yang bisa dijadikan sebagai referensi jawaban.

Ketiga, perdalam dan atau perluas informasi riset yang didapat agar tulisan yang dibuat mempunyai nilai lebih dibandingkan tulisan orang lain. Dalam kasus ini, saya mencoba menggali lebih dalam dan memberikan fakta-fakta menarik tentang A.I milik Tony Stark yang jarang diketahui oleh orang lain, seperti ini misalnya:

Proses memperdalam atau memperluas informasi inilah yang menurut saya membedakan antara penulis yang baik dengan penulis yang biasa saja. Penulis yang baik tidak hanya akan mencari informasi untuk menjawab sebuah pertanyaan, tapi juga mencoba satu langkah lebih jauhdengan mencari informasi tambahan untuk memperkaya pengetahuan pembacanya.

Nah, sumber data sudah kita ketahui, informasi sudah digali, lalu apa langkah selanjutnya?

Ibarat chef dari sebuah restoran, sekarang yang harus kita lakukan adalah membuat ‘makanan’ kita terlihat menarik dan menggugah selera. Jika chef melakukannya dengan plating, kita sebagai penulis bisa melakukannya dengan storytelling.

2. Storytelling

Informasi dalam sebuah tulisan memang merupakan hal yang utama, tapi jika informasi tersebut disampaikan dengan berantakan dan tidak bisa dibaca dengan jelas, tentu akan menjadi sia-sia bukan? Begitu juga ketika kita memberikan informasi tersebut pada pembaca dengan cara yang monoton dan membosankan, pembaca pasti merasa enggan untuk membaca tulisan kita walaupun informasi didalamnya tersaji lengkap dan detail.

Sebagai penulis pemula, salah satu hal dasar yang sering dilupakan adalah tidak membuat tulisan yang kita buat terasa mengalir. Penulis biasanya hanya mengumpulkan seluruh informasi hasil riset dalam kotak-kotak paragraf seperti ini:

Anggaplah kita sedang ingin membuat artikel sederhana tentang brand activism. Kita pasti melakukan riset tentang apa itu brand activism, contoh-contoh dari brand activism, dan bagaimana para perusahaan menggunakan brand activism untuk membangun brand mereka.

Setelah kita melakukan riset, kita kemudian memasukan semua informasi yang kita dapatkan dalam bentuk bab dan sub bab agar lebih teratur dan mudah dibaca. Tapi menurut saya, hal ini belum cukup. Sebuah tulisan yang baik tidak hanya teratur dan mudah dibaca, tapi juga harus menarik untuk dibaca dari awal sampai akhir.

Sekarang bandingkan dengan format tulisan yang menggunakan storytelling berikut ini:

Terasa lebih menarik dan lebih menggugah ‘selera’ untuk dibaca bukan? Bagaimana judul, sub judul, dan gambar-gambar saling memadu menciptakan sebuah cerita yang mengalir, terus membuat topik yang dibahas selalu terasa segar dan membuat pembacanya selalu penasaran.

Alasan inilah kenapa kita harus menyajikan informasi yang kita kumpulkan dengan teknik storytelling, yaitu sebuah proses kreatif yang dilakukan oleh otak kanan kita yang penuh dengan kebebasan, kreativitas dan imajinasi. Storytelling membuat tulisan yang kita buat terasa seperti mengalir, selalu menarik perhatian pembacanya dan membuat pembaca betah membaca sampai akhir.

Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk membuat tulisan saya menarik dan terasa mengalir dengan menggunakan teknik storytelling:

Perlu diingat, setiap penulis punya ‘standarisasi’ storytelling yang berbeda. Beberapa penulis menggunakan kutipan atau jeda spasi yang besar untuk membuat tulisan terasa mengalir, beberapa lainnya menggunakan kalimat bersambung dan tidak sedikit yang menggunakan tanda baca. Kalau saya pribadi, ada beberapa ‘aturan’ yang harus saya pakai ketika menulis untuk menjaga storytelling dari tulisan saya:

  1. 4 Kalimat, 2 Paragraf — Setiap kali saya menulis, biasanya saya menulis MAKSIMAL 4 kalimat dalam satu paragraf. Setelah menulis 2 paragraf, biasanya akan saya jeda dengan gambar, pointer, list, kutipan, atau satu baris kalimat yang saaling menyambung dan berkaitan satu sama lain.
  2. Paragraf Dinamis — Saya biasa menulis dengan paragraf yang dinamis; dimana paragraf satu dengan paragraf lainnya memiliki jumlah kalimat yang berbeda. Jika sebelumnya saya menulis 3 kalimat, maka paragraf selanjutnya bisa 2, 1, atau 4 kalimat.
  3. Sejenis, Seragam — Untuk mempertahankan estetika pada tulisan yang saya buat, biasanya saya selalu memasukan gambar dengan format yang sejenis dan atau seragam. Contohnya, pada tulisan ini saya memasukan informasi gambar tambahan menggunakan copyvisual dengan font Coolvetica dan size 850x450px.
  4. Data, Data, Data — Jika saya menjadi seorang pembaca, data berupa statistik, riset, hasil penelitian dan kutipan pakar adalah hal yang saya cari. Karena itu, biasanya saya akan menonjolkan data yang saya kumpulkan agar pembaca bisa melihat langsung tanpa susah payah.

Setiap kali saya menulis, saya membayangkan diri saya sebagai pembaca; seseorang yang malas membaca tulisan yang panjang, ingin pada intinya saja, tapi bisa betah membaca dari awal sampai akhir jika tulisannya menarik. Nah, dari sinilah saya ‘meramu’ teknik storytelling yang sekiranya cocok untuk pembaca yang tidak senang membaca seperti saya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat salah satu jawaban saya yang mendapatkan tayangan paling tinggi: Marvel baru saja mengumumkan film Doctor Strange baru dengan Scarlet Witch; apa hal yang paling membuatmu bersemangat dari film yang akan datang ini?

Jujur, saat saya mencoba menjawab pertanyaan ini, saya sama sekali tidak tahu tentang seluk beluk film Doctor Strange: In The Multiverse of Madness. Tapi meskipun begitu, saya merasa tertarik dan ingin mencoba mencari tahu sekaligus menjawab pertanyaan tersebut.

Saya melakukan riset seperti biasa dari sumber-sumber berita yang membahas tentang film ini. Tapi untuk menjaga flow tulisan dan estetika didalamnya tetap menarik, saya menggiring pembaca dengan perspektif narasi yang jarang orang ketahui. Pada kasus ini, saya mencoba menggali lebih dalam tentang musuh yang akan dihadapi Doctor Strange, yaitu Nightmare.

Flow cerita terus saya jaga dengan menceritakan secara detail siapa itu Nightmare, darimana asal usulnya, mengapa dia bisa menjadi musuh Doctor Strange, dan segala hal yang menarik tentang hubungan antara Doctor Strange dengan Nightmare. Saya benar-benar menulis tentang Nightmare dari nol lho, tidak pernah tahu sebelumnya dan hanya berbekal data dari Marvel Database saja.

Storytelling juga didukung dari sisi visual, dimana saya menggunakan potongan-potongan komik yang bisa menjelaskan narasi yang saya bangun, tentu saja dengan size dan bentuk yang sejenis dan seragam:

Buat saya yang malas membaca tulisan yang panjang, gambar ilustrasi yang diselipkan diantara tulisan ini membuat mata saya tetap ‘segar’ dan ingin terus membaca sampai akhir. Gambar-gambar ini juga bisa difungsikan sebagai penjelas atau perangsang imajinasi dari sebuah bagian tulisan, sehingga pembaca bisa lebih mengerti dan memahami topik yang sedang dibahas.

Yah, ini teknik storytelling yang saya pakai ya.

Kalau menurut kamu teknik storytelling ini tidak cocok dengan gaya tulisan kamu, coba ulik sendiri kira-kira apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk membuat tulisan terasa mengalir dan tidak membuat bosan. Setelahnya, barulah kita masuk ke tahap menulis yang menurut saya paling menyebalkan; proofreading

3. Proofreading

Saat kita membuat sebuah tulisan, salah satu perasaan yang paling menyenangkan adalah ketika kita membubuhkan kalimat penutup yang terakhir. Satu momen dimana kita akhirnya selesai membuat sebuah karya dari jerih payah, keringat dan pikiran kita sendiri.

Tapi bagi seorang penulis yang baik, proses menulis tidaklah berhenti sampai kita menulis kalimat penutup. Ada satu proses final yang harus dilakukan demi menjaga kualitas tulisan yang kita buat; proofreading.

Proofreading adalah satu proses dimana kita melihat dan membaca kembali tulisan dari awal, melihat dengan lebih detail sebagai upaya untuk mengoptimalisasi tulisan yang kita buat. Kebanyakan penulis pemula biasanya enggan melakukan proofreading karena merasa sudah terlalu capek menulis, sehingga mereka ingin segera menyelesaikan tulisannya.

Padahal, proofreading adalah salah satu proses paling penting dalam membuat sebuah tulisan, dimana kamu bisa merasakan manfaat berikut ini:

  • Ejaan & Tata Bahasa
    Proofreading akan ‘memaksa’ kita untuk melihat kembali ejaan dan tata bahasa yang kita pakai untuk membangun sebuah tulisan. Ketika kita menulis, ada saat dimana terjadi ketidaksinkronisasi antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita tuangkan dalam sebuah tulisan. Gagalnya sinkronisasi ini biasanya akan membuat ejaan atau tata bahasa yang kita gunakan terlihat kacau saat dibaca kembali.
  • Optimasi Kata & Kalimat
    Pada saat menulis, tidak jarang kita membuat banyak kalimat-kalimat yang tidak efektif, terlalu panjang, atau tidak menyambung satu sama lain. Proofreading akan membuat kita mengoptimasi setiap kata dan kalimat yang kita buat, sehingga informasi atau cerita yang kita bangun bisa tersampaikan dengan efektif pada pembacanya.
  • Aliran Cerita
    Untuk membuat sebuah tulisan tetap menarik, diperlukan narasi yang mengalir dan terus mengundang rasa penasaran. Ketika kita fokus menulis, terkadang kita lupa memperhatikan elemen storytelling pada beberapa paragraf yang kita buat. Disinilah proofreading berfungsi, dimana kita akan memastikan cerita mengalir sempurna dari awal sampai akhir tanpa mengurangi esensi pesan atau informasi yang disampaikan.
  • Writer’s Persona
    Agar writer persona atau gaya penulisan kita tetap terlihat jelas, diperlukan sebuah proses cek dan ricek yang hanya bisa dilakukan ketika kita melakukan proofreading. Dengan begini kita dapat melihat, apakah tulisan yang kita buat memiliki ciri khas yang kita punya atau belum.

Proofreading yang merupakan proses kontrol kualitas ini juga bermanfaat untuk mengetahui dimana saja kelemahan dan kekurangan yang biasa kita lakukan ketika membuat sebuah tulisan. Dengan kata lain, proofreading merupakan proses dimana kita belajar meningkatkan kualitas tulisan yang kita buat.

Untuk melakukan proofreading yang baik, begini cara saya melakukannya:

Pertama, jangan hanya membaca ketika melakukan proofreading. Untuk menemukan kesalahan kata sekaligus mengecek apakah kalimat yang kita susun sudah enak untuk dibaca, narasikan tulisan yang kita buat dengan melakukan monolog. Ketika kita membaca sambil berbicara, kita dapat mengetahui kira-kira apakah kalimat tersebut sudah efektif atau masih bertele-tele. Percayalah, kamu akan merasakan perbedaan yang signifikan ketika melakukan proofreading menggunakan monolog ini.

Kedua, pastikan tidak ada kata yang salah dan struktur kalimat sudah sesuai dengan kaidah EYD. Perhatikan juga susunan kata yang bersifat homonym, yaitu kata-kata yang mempunyai arti serupa yang kadang membuat kalimat malah menjadi tidak efektif, seperti kata ‘tapi walaupun’ atau ‘adalah seperti’.

Ketiga, lakukan proofreading setiap dua paragaf untuk menjaga alur cerita tetap baik dan konstan. Lihat apakah tiap-tiap paragraf tersambung dengan paragraf sebelumnya dan sesudahnya. Jika tidak tersambung dengan baik, tulisan yang kita buat akan terasa ‘loncat-loncat’ bagi pembacanya.

Buat seorang penulis yang baik, proofreading bukanlah sekedar proses mengecek apakah ada kata yang typo atau kalimat yang salah. Proofreading adalah proses dimana kita belajar menemukan kesalahan dari tulisan yang kita buat, agar kita bisa menulis lebih baik untuk kedepannya. Mengutip dari mentor daring saya:

“Writing is the art,
Editing is the craft”

- Thaddeus Howzee

Tips-tips di atas adalah beberapa proses yang saya lakukan ketika saya memutuskan untuk menulis dari nol dua tahun lalu . Tapi perlu diingat, tiap penulis memiliki cara dan triknya masing-masing dalam membuat sebuah tulisan. Mungkin tips yang saya berikan di atas tidak akan efektif buat kamu, atau malah membuat proses menulis kamu terhambat.

Tidak masalah, itu berarti sudah waktunya kamu harus mencari tahu sendiri apa metode menulis yang cocok dengan gaya kepenulisan kamu.

Dan yang paling penting dari semuanya adalah, biasakan untuk menulis setiap hari.

Luangkan waktu setengah jam setiap hari untuk menulis jurnal.
Luangkan waktu 15 menit untuk menjawab pertanyaan Quora
Luangkan waktu 5 menit untuk membuat microblog di Twitter.

Tidak masalah berapapun waktu yang kamu sediakan untuk menulis, karena yang penting adalah membangun kebiasaan menulis setiap hari. Sulit memang, tapi harus selalu kita coba jika kita serius ingin menjadi penulis yang baik.

Semangat menulis!

Amateur Blogger | Content Writer | Movie Analyst & Reviewer

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store